Presiden UEFA Mengakui Kalau VAR Memang Berantakan

0
184
Presiden UEFA Mengakui Kalau VAR Memang Berantakan
Presiden UEFA Mengakui Kalau VAR Memang Berantakan

Angpaosport – Presiden UEFA Mengakui Kalau VAR Memang BerantakanVideo Assistant Referee (VAR) mengundang polemik dari berbagai kalangan penikmat sepak bola di seluruh dunia. Bahkan presiden UEFA, Aleksander Ceferin, juga tidak senang dengan keberadaan teknologi itu.

VAR mulai digunakan di banyak kompetisi Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Tujuan kehadiran teknologi itu sendiri adalah untuk membantu wasit dalam membuat keputusan yang krusial dalam satu pertandingan.

Namun tidak jarang VAR mengundang kritikan dari banyak kalangan. Umumnya, publik merasa VAR membuat suatu pertandingan kehilangan keseruannya karena wasit harus melihat tayangan ulang satu kejadian.

Pelatih Manchester City, Josep Guardiola, adalah sosok yang cukup sering mengkritisi teknologi tersebut pada musim ini. Termasuk saat the Citizens kalah atas Liverpool di ajang Premier League.

VAR KACAU

Kendati demikian, tidak sedikit yang merasa kehadiran VAR adalah sebuah revolusi dalam sepak bola. Namun apapun itu, Ceferin bukanlah penggemar teknologi tersebut.

“[VAR] berantakan. Saya tak berpikir bahwa toleransi satu atau dua sentimeter untuk offside, sebagai contohnya, itu cukup,” ujar Ceferin kepada the Mirror.

“Kami akan membuat pengajuan perubahan kepada IFAB. Dan juga untuk wasit-wasit kami,” lanjut pria berumur 52 tahun tersebut.

MEMBERIKAN TEKANAN TAMBAHAN

Ceferin melanjutkan, bahwasanya VAR telah memberikan tekanan tambahan kepada wasit. Dan sudah melenceng dari fungsi sebelumnya yang pernah diungkapkan oleh mantan wasit Italia, Roberto Rosetti.

“Kami tidak memiliki banyak intervensi dalam kompetisi UEFA karena petugas kepala wasit kami, Roberto Rosetti, berkata kepada VAR: ‘harus merupakan kesalahan yang jelas’,” tambahnya.

“Namun sekarang tekanannya berbeda. Bila anda jadi wasit, meskipun anda memiliki 70 atau 80 ribu orang berteriak, anda yang harus memutuskan – bukan orang yang tersembunyi di London, Berlin, atau lain.”

“Saya bukan penyukanya. Saya sangat skeptis, dan saya bisa katakan bahwa saya tidak menyukai hasilnya. Sayang, sudah tak bisa mundur lagi,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here